Tradisi Nampiog dan Siat Sampian

Tradisi Siat Sampian merupakan salah satu tradisi sakral dan unik yang mengandung cerminan nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Tradisi ini diselenggarakan 4 hari setelah pujawali karya padudusan Pura Samuan Tiga atau sebelum Ida Bhatara manca-manca kembali ke pura masing-masing. Siat Sampian terdiri dari kata “Siat” yang berarti perang dan “Sampian” yaitu sebuah rangkaian janur, sehingga bila diartikan Siat Sampian yaitu perang menggunakan sebuah rangkaian janur. Tradisi Siat Sampian memiliki filosofi yaitu “Dharma” yang berarti kebaikan, melawan “Adharma” yang berarti kejahatan. Tradisi ini mencerminkan bagaimana seorang manusia berperang melawan diri sendiri dimana hal baik dan buruk akan selalu berdampingan. Tradisi Siat sampian dilaksanakan oleh perempuan (Permas) dan laki-laki (Parekan) terpilih yang sudah melalui proses penyucian dan pembersihan diri secara sakral.

Tradisi Nampiog dan Siat Sampian

Tradisi Siat Sampian merupakan salah satu tradisi sakral dan unik yang mengandung cerminan nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Tradisi ini diselenggarakan 4 hari setelah pujawali karya padudusan Pura Samuan Tiga atau sebelum Ida Bhatara manca-manca kembali ke pura masing-masing. Siat Sampian terdiri dari kata “Siat” yang berarti perang dan “Sampian” yaitu sebuah rangkaian janur, sehingga bila diartikan Siat Sampian yaitu perang menggunakan sebuah rangkaian janur. Tradisi Siat Sampian memiliki filosofi yaitu “Dharma” yang berarti kebaikan, melawan “Adharma” yang berarti kejahatan. Tradisi ini mencerminkan bagaimana seorang manusia berperang melawan diri sendiri dimana hal baik dan buruk akan selalu berdampingan. Tradisi Siat sampian dilaksanakan oleh perempuan (Permas) dan laki-laki (Parekan) terpilih yang sudah melalui proses penyucian dan pembersihan diri secara sakral

Sampian sebagai Senjata

Sampian merupakan sarana upacara yang terbuat dari janur yang kemudian dirangkai menjadi kesatuan. Pada tradisi Siat Sampian, senjata yang digunakan untuk perang adalah sampian karena sampian merupakan simbolis dari bentuk padma atau cakra. Sampian yang digunakan dalam tradisi ini sebelumnya akan disiapkan oleh masing – masing permas dan parekan dengan menghaturkan banten yang bernama jerimpen dan dangsil. Satu hari sebelum siat sampian, banten jerimpen dan dangsil ini akan dilungsur dan diambil sampiannya untuk digunakan esok hari. Hal ini disampaikan oleh Gusti Mangku Ageng sebagai pemangku Pura Samuan Tiga.

Rangkaian Prosesi Siat Sampian

Tradisi Siat Sampian dilaksanakan oleh permas yang berjumlah sekitar 70 orang dan parekan yang berjumlah sekitar 400 orang. Rangkaian tradisi siat sampian diawali dengan Permas melakukan persembahyangan ke pelinggih Ratu Agung Sakti, Ratu Agung Panji, Pamiakala, dan Pengaruman Agung. Kemudian Permas akan melakukan gerakan tarian Nampiog dengan mengelilingi areal Penataran Agung Pura Samuan Tiga yang terdiri dari beberapa proses didalamnya

Berdasarkan keterangan Wayan Sunantara, prosesi Nampiog dimulai dengan Permas melakukan tarian Nampiog di depan pelinggih Ratu Agung, Pengaruman Agung, Ratu Agung Sakti, dan Ratu Agung Panji. Kemudian Permas berbaris dan melanjutkan gerakan tarian Nampiog dengan mengelilingi areal Penataran pura sebanyak tiga kali dan kemudian menaiki Kori Agung untuk menuju areal Batan Manggis dan melakukan persembahyangan di pelinggih Pamiakala.

Rangkaian Prosesi Siat Sampian

Tradisi Siat Sampian dilaksanakan oleh permas yang berjumlah sekitar 70 orang dan parekan yang berjumlah sekitar 400 orang. Rangkaian tradisi siat sampian diawali dengan Permas melakukan persembahyangan ke pelinggih Ratu Agung Sakti, Ratu Agung Panji, Pamiakala, dan Pengaruman Agung. Kemudian Permas akan melakukan gerakan tarian Nampiog dengan mengelilingi areal Penataran Agung Pura Samuan Tiga yang terdiri dari beberapa proses didalamnya

Berdasarkan keterangan Wayan Sunantara, prosesi Nampiog dimulai dengan Permas melakukan tarian Nampiog di depan pelinggih Ratu Agung, Pengaruman Agung, Ratu Agung Sakti, dan Ratu Agung Panji. Kemudian Permas berbaris dan melanjutkan gerakan tarian Nampiog dengan mengelilingi areal Penataran pura sebanyak tiga kali dan kemudian menaiki Kori Agung untuk menuju areal Batan Manggis dan melakukan persembahyangan di pelinggih Pamiakala.

Gerakan Tarian Nampiog

Berdasarkan buku Kahyangan Jagat Pura Samuan Tiga oleh I Wayan Patera, berikut adalah gerak dalam prosesi tarian Nampiog :

  1. Ngober Ngamet, merupakan gerakan yang dipimpin oleh para pemangku membawa bajera yang diikuti oleh Permas yang membawa peralatan upacara seperti dupa atau tetabuh mengelilingi pura sebanyak tiga kali kemudian kembali ke pelinggih Pamiakala.

  2. Ngober Cerik, yaitu cerik (selendang) yang diikat di pinggang Permas ditarik ke kiri kemudian menari mengelilingi pura sebanyak tiga kali kemudian kembali ke pelinggih Pamiakala.

  3. Ngober Mekendang, adalah gerakan dimana permas saling memegang selendang dari yang paling depan sampai belakang sambil menari mengelilingi areal pura sebanyak tiga kali, kemudian kembali ke pelinggih Pamiakala.

Gerakan Ngombak

Disaat yang bersamaan pada saat Permas melakukan gerakan Ngober Mekendang, para Parekan bersembahyang dan sudah bersiap di depan pelinggih pamiakala. Setelah permas menyelesaikan gerakan Nampiog terakhir, parekan dan permas melakukan gerakan Ngombak bersama-sama. Ngombak merupakan gerakan tarian yang menyerupai gerak arus ombak. Parekan dan Permas menuruni Kori Agung dan mengelilingi areal Penataran Pura sebanyak tiga kali dan kembali ke pelinggih Pamiakala.

Gerakan Ngombak

Disaat yang bersamaan pada saat Permas melakukan gerakan Ngober Mekendang, para Parekan bersembahyang dan sudah bersiap di depan pelinggih pamiakala. Setelah permas menyelesaikan gerakan Nampiog terakhir, parekan dan permas melakukan gerakan Ngombak bersama-sama. Ngombak merupakan gerakan tarian yang menyerupai gerak arus ombak. Parekan dan Permas menuruni Kori Agung dan mengelilingi areal Penataran Pura sebanyak tiga kali dan kembali ke pelinggih Pamiakala.

Siat Sampian

Setelah gerakan Ngombak, dimulailah prosesi Siat Sampian yang dimana para Permas akan terlebih dahulu melaksanakannya. Setelah Permas menyelesaikan Siat Sampian, kemudian Parekan menuruni Kori Agung untuk sembahyang terlebih dahulu di pelinggih Ratu Agung Sakti, Ratu Agung Panji, dan Penataran Agung. Setelah mendapatkan percikan air suci, para parekan akan mengelilingi areal pura sebanyak tiga kali. Pada putaran ketiga Parekan akan mengambil sampian dan membagi menjadi dua kelompok, lalu dimulailah tradisi Siat Sampian.

Para Parekan dan Permas melakukan perang selayaknya saat berperang dengan saling pukul dan serang satu sama lain dengan gembira. Setelah perang, sampian akan dikumpulkan, Parekan dan Permas akan menuju Pura Beji untuk meminta penyucian diri dan ditutup dengan persembahyangan.