Karya Padudusan Bhatara Tedun Kabeh
Pura Samuan Tiga melaksanakan upacara setiap satu tahun yang dibagi menjadi upacara tahun genap dan upacara tahun ganjil. Pada tahun genap akan dilaksanakan upacara Karya Padudusan Agung, dan pada tahun ganjil akan dilaksanakan upacara Karya Padudusan Alit. Upacara Karya Padudusan merupakan upacara pujawali atau dewa yadnya kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Samuan Tiga beserta Pura disekitarnya yang berlangsung setiap satu tahun sekali menurut perhitungan sasih atau bertepatan dengan rahina Purnama Jiyestha dan Tilem Kedasa. Konsep inilah yang akan terus berjalan dan diteruskan generasi ke generasi oleh pengurus dan masyarakat pengemong Pura Samuan Tiga. Prosesi karya padudusan berlangsung selama sekitar satu bulan dari tahap persiapan hingga selesainya upacara. Berikut dijelaskan tahapan dari prosesi upacara karya Padudusan Agung maupun karya Padudusan Alit.
Karya Padudusan Bhatara Tedun Kabeh
Pura Samuan Tiga melaksanakan upacara setiap satu tahun yang dibagi menjadi upacara tahun genap dan upacara tahun ganjil. Pada tahun genap akan dilaksanakan upacara Karya Padudusan Agung, dan pada tahun ganjil akan dilaksanakan upacara Karya Padudusan Alit. Upacara Karya Padudusan merupakan upacara pujawali atau dewa yadnya kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Samuan Tiga beserta Pura disekitarnya yang berlangsung setiap satu tahun sekali menurut perhitungan sasih atau bertepatan dengan rahina Purnama Jiyestha dan Tilem Kedasa. Konsep inilah yang akan terus berjalan dan diteruskan generasi ke generasi oleh pengurus dan masyarakat pengemong Pura Samuan Tiga. Prosesi karya padudusan berlangsung selama sekitar satu bulan dari tahap persiapan hingga selesainya upacara. Berikut dijelaskan tahapan dari prosesi upacara karya Padudusan Agung maupun karya Padudusan Alit.
Rangkaian Prosesi Persiapan Upacara
Disampaikan oleh wakil bendesa, Wayan Sunantara, Karya Padudusan diawali pada 15 hari sebelumnya dengan upacara Nyambutin Karya atau Nuasen yaitu bersembahyang bersama untuk memohon kelancaran dalam upacara yang akan dilaksanakan. Pada saat ini juga dilakukan persiapan untuk sarana upakara yang dikerjakan oleh Permas. Disaat yang bersamaan juga dilakukan salah satu tradisi unik di Pura Samuan Tiga yang dilaksanakan oleh anak anak, yaitu Tradisi Ngambeng. Tradisi Ngambeng akan dilaksanakan selama 7 hari atau sebelum dilakukan prosesi Pengrauh.
Kemudian pada 5 hari sebelumnya para pengemong dan pengayah Pura Samuan Tiga melakukan prosesi maturan banten Pakeling. Pakeling yaitu pemberitahuan kepada Bhatara Pura yang akan lunga (melakukan perjalanan) ke Pura Samuan Tiga. Adapun sesuunan Bhatara yang turut hadir yakni Pura Penataran Sasih Pejeng, Pura Penataran Hyang Loni, serta Bhatara Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Taman, Desa Adat Wanayu, Desa Adat Bedulu, Desa Adat Tengkulak Kaja, dan Desa Adat Tengkulak Tengah. Pada hari ini juga dilakukan penyucian sarana upakara yang disebut dengan nyangling.
Saat 8 hari sebelumnya akan dilakukan Pengrauh yaitu merupakan suatu acara dalam menyambut kedatangan-Nya dengan melihat beberapa ciri seperti berbentuk sinar, angin, ataupun hujan. Jika cirinya sinar, maka akan muncul di pohon wani yang berada di Pura Samuan Tiga. Ciri angin akan diketahui oleh Gusti Mangku Ageng dengan melakukan ngaturan banten pengrauh. Pada upacara tahun ini, bentuk kehadiran-Nya dengan ciri hujan yang turun di wilayah Desa Bedulu.
3 Hari sebelum puncak karya, pada Padudusan Agung dilaksanakan prosesi nedunan pralingga ida Bhatara untuk dipersiapkan dan dihias. Pada hari ini juga dilakukan upacara Mendak Pekuluh yaitu perjalanan ke Gunung Agung dan beberapa Pura seperti Pura Besakih, Pura Batur, Pura Tirta Empul, dan Pura Jati. Kemudian dilanjutkan dengan upacara pekalahyangan atau penyucian diri bagi setiap pengayah yang terlibat di Pura Samuan Tiga. Para Permas, Parekan, Pemangku, dan Pengayah akan melakukan persembahyangan di mandala Batan Manggis pada Pelinggih Pekalahyangan.
2 Hari sebelumnya diadakan upacara mecaru atau Tawur Agung saat karya Padudusan Agung, sedangkan saat Padudusan Alit hari ini dilakukan menghias pralingga ida Bhatara
3 Hari sebelum puncak karya, pada Padudusan Agung dilaksanakan prosesi nedunan pralingga ida Bhatara untuk dipersiapkan dan dihias. Pada hari ini juga dilakukan upacara Mendak Pekuluh yaitu perjalanan ke Gunung Agung dan beberapa Pura seperti Pura Besakih, Pura Batur, Pura Tirta Empul, dan Pura Jati. Kemudian dilanjutkan dengan upacara pekalahyangan atau penyucian diri bagi setiap pengayah yang terlibat di Pura Samuan Tiga. Para Permas, Parekan, Pemangku, dan Pengayah akan melakukan persembahyangan di mandala Batan Manggis pada Pelinggih Pekalahyangan.
2 Hari sebelumnya diadakan upacara mecaru atau Tawur Agung saat karya Padudusan Agung, sedangkan saat Padudusan Alit hari ini dilakukan menghias pralingga ida Bhatara
Bhatara Tedun
1 Hari sebelumnya Ida Bhatara dari beberapa Desa Adat dan Pura akan lunga dan rauh (hadir) ke Pura Samuan Tiga dan berstana di Pengaruman Agung. Sebelum melinggih, akan mengelilingi mandala Penataran Agung dengan gerakan Prasawiya atau berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali.
Pelaksanaan Upacara
Pada hari puncak upacara, pelaksanaan karya Padudusan Agung dan Padudusan Alit kurang lebih serupa. Pada hari ini diadakan Tari-Tarian seperti Tari Rejang, Tari Legong, dan Tari Topeng. Upacara diawali dengan pemedek (masyarakat) melakukan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh sulinggih. Selanjutnya dilaksanakan upacara mepeselang dan memasar. Berbeda dengan Pura pada umumnya yang melaksanakan mepeselang di upacara tertentu, pada Pura Samuan Tiga prosesi ini sudah menjadi rutinitas karena pada Pura Samuan Tiga memiliki pelinggih yang menjadi stana Ida Ratu Peselang. Mulai saat ini, Ida Bhatara Samuan Tiga akan nyejer (berstana) selama 11 hari.
3 hari setelah hari puncak, Ida Bhatara dari beberapa Pura dan Desa Adat akan Budal (kembali) ke pura masing-masing. Disaat inilah sebelum budal, Permas dan Parekan akan melakukan tradisi Siat Sampian yang diawali dengan serangkaian prosesi Nampiog oleh Permas. Setelah selesai prosesi Siat Sampian, Ratu Bhatara manca-manca akan tedun dari Paruman Ageng dan mengelilingi Penataran Agung dengan gerakan mepurwa daksina atau searah jarum jam sebanyak tiga kali. Setelah upacara ini berlangsung, Ratu Manca-manca akan kembali ke Pura stana-Nya masing-masing sedangkan Bhatara Samuan Tiga kembali melinggih di Pengaruman Agung.
Selama nyejer, di setiap harinya masyarakat dari semua banjar pada Desa Pengemong Pura Samuan Tiga akan melakukan Mepeed atau iring iringan dengan membawa banten Pajegan/Gebogan untuk dihaturkan, kemudian melakukan persembahyangan bersama di Pengaruman Agung.
Pada hari ke-11 khusus Padudusan Agung dilaksanakan upacara Melasti yakni Ida Sesuhunan akan lunga (melakukan perjalanan) ke Pantai, sedangkan saat Padudusan Alit hanya akan dilakukan Melasti Ngubeng, yang berarti tidak pergi ke laut.
Melasti dan Nyineb
Pelaksanaan Melasti dilakukan oleh segenap pengempon berjalan kaki menuju Pantai Masceti yang berjarak 12 km dari Pura Samuan Tiga. Bhatara Samuan Tiga pergi ke laut bersama Ratu Manca-manca. Sesampainya di laut, dilakukan serangkaian prosesi persembahyangan bersama sebelum iring-iringan kembali berjalan menuju alun-alun Gianyar. Disini puri Gianyar bersama masyarakat Gianyar melakukan persembahyangan. Selanjutnya Bhatara pura Samuan Tiga kembali ke Pura Samuan Tiga sedangkan Ratu manca-manca kembali ke Pura Stana masing-masing. Ida Bhatara Samuan Tiga akan menuju pelinggih Pengaruman Agung yang berada di mandala Jeroan untuk dilakukan prosesi Nyineb keesokan harinya. Rangkaian prosesi dalam upacara Karya Padudusan ditutup dengan prosesi Nyineb dimana Bhatara Samuan Tiga akan kembali berstana di mandala jeroan.