Ngayah Ngambeng

Tradisi ngambeng merupakan salah satu aset dalam kebudayaan yang dipertahankan turun temurun di Desa Bedulu. Ngambeng merupakan salah satu dari rangkaian upacara Dewa Yadnya Karya Padudusan di Pura Samuan Tiga. Tradisi Ngambeng dilaksanakan secara spontan oleh anak – anak setingkat SD hingga SMP dalam mendapatkan sarana upakara (persembahan suci) seperti buah – buahan, dedaunan, dupa, bunga, ayam, itik dan sebagainya. Dalam wawancara dengan Wakil Bendesa Pura Samuan Tiga, Wayan Sunantara menyampaikan, tradisi ngambeng bertujuan untuk menanamkan pendidikan budi pekerti serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini dengan tugas ayah ayahan di Pura Samuan Tiga. Sekaligus anak-anak yang berkeliling dapat menginformasikan warga setempat bahwa upacara Karya Padudusan Pura Samuan Tiga sudah akan dimulai.

Tradisi Ngambeng

Tradisi ngambeng merupakan salah satu aset dalam kebudayaan yang dipertahankan turun temurun di Desa Bedulu. Ngambeng merupakan salah satu dari rangkaian upacara Dewa Yadnya Karya Padudusan di Pura Samuan Tiga. Tradisi Ngambeng dilaksanakan secara spontan oleh anak – anak setingkat SD hingga SMP dalam mendapatkan sarana upakara (persembahan suci) seperti buah – buahan, dedaunan, dupa, bunga, ayam, itik dan sebagainya. Dalam wawancara dengan Wakil Bendesa Pura Samuan Tiga, Wayan Sunantara menyampaikan, tradisi ngambeng bertujuan untuk menanamkan pendidikan budi pekerti serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sejak dini dengan tugas ayah ayahan di Pura Samuan Tiga. Sekaligus anak-anak yang berkeliling dapat menginformasikan warga setempat bahwa upacara Karya Padudusan Pura Samuan Tiga sudah akan dimulai.

Persiapan Ngambeng

Pelaksanaan Tradisi Ngambeng berkaitan dengan runtutan persiapan dalam upacara Karya Padudusan Pura Samuan Tiga. Berdasarkan penjelasan Gusti Mangku Ageng sebagai pemangku pura samuan tiga, Ngambeng mulai dilaksanakan bersamaan dengan Nyambut Karya pada tilem sasih kedasa atau 15 hari sebelum puncak upacara yang ditandai oleh pengayah pura yang memulai pembuatan sarana upacara. Tradisi Ngambeng diawali oleh anak-anak yang membentuk kelompok secara mandiri beranggotakan sekitar 5 orang atau lebih. Anak-anak yang melaksanakan Ngambeng sebelumnya akan menyiapkan alat penunjang seperti : Pisau, Kantong Plastik atau Karung, dan Bambu sebagai alat pikul.

Prosesi Ngambeng

Anak-anak yang sudah terbagi kelompok kemudian secara mandiri kerumah – rumah warga sekitar Desa Bedulu untuk meminta (nunas) sarana upakara. Anak-anak tampak sangat riang dan bersemangat dalam melakukan tradisi ini. Saat dirumah warga, anak-anak akan mengucapkan “Om Swastiastu, tiang ngayah ngambeng” dan secara otomatis warga sudah mengetahui dan memberikan sarana upakara yang dimilikinya. Sarana upakara yang diberikan oleh masyarakat bersifat ikhlas dan tanpa paksaan. Tidak jarang juga anak-anak mengambil sendiri sarana upakara tersebut dengan memetik atau memotong pada pohon. Hasil “ambengan” akan dipikul bersama-sama lalu dikumpulkan pada salah satu rumah para pengayah ngambeng. Jika sudah terkumpul banyak kemudian akan dibawa ke Pura Samuan Tiga.

Prosesi Ngambeng

Anak-anak yang sudah terbagi kelompok kemudian secara mandiri kerumah – rumah warga sekitar Desa Bedulu untuk meminta (nunas) sarana upakara. Anak-anak tampak sangat riang dan bersemangat dalam melakukan tradisi ini. Saat dirumah warga, anak-anak akan mengucapkan “Om Swastiastu, tiang ngayah ngambeng” dan secara otomatis warga sudah mengetahui dan memberikan sarana upakara yang dimilikinya. Sarana upakara yang diberikan oleh masyarakat bersifat ikhlas dan tanpa paksaan. Tidak jarang juga anak-anak mengambil sendiri sarana upakara tersebut dengan memetik atau memotong pada pohon. Hasil “ambengan” akan dipikul bersama-sama lalu dikumpulkan pada salah satu rumah para pengayah ngambeng. Jika sudah terkumpul banyak kemudian akan dibawa ke Pura Samuan Tiga.

Karma Tulus Ikhlas

Tradisi Ngambeng dilaksanakan selama 7 hari dari pagi hingga sore. Sarana upakara hasil ngayah ngambeng akan dibawa anak-anak ke Pura Samuan Tiga dan akan diserahkan pada prajuru atau pengayah Pura Samuan Tiga. Setelah pelaksanaan ngayah ngambeng, anak-anak akan mendapatkan makanan atau disebut nunas pica sebagai bentuk menghargai anak-anak yang turut melaksanakan ngayah ngambeng. Tradisi ini dapat menjadi sebuah pelajaran dalam menjalankan karma dengan tulus ikhlas, serta tradisi yang berjalan secara turun temurun ini menciptakan rasa kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas warga sejak dini.