Sejarah

Pura Samuan Tiga

Sejarah Pura Samuan Tiga tidak lepas dari perkembangan agama Hindu dimana kedatangan Mpu Kuturan ke Bali memperkenalkan konsep kepercayaan kepada dewa Tri Murti. Bila melihat lebih jauh, eksistensi Pura Samuan Tiga tercatat sudah berdiri sebelum kedatangan Mpu Kuturan. Mengutip dari buku “Pura Samuan Tiga Bedulu Gianyar” oleh paruman Pura Samuan Tiga, salah satu sumber tertulis yang berkenaan dengan berdirinya Pura Samuan Tiga adalah lontar Tatwa Siwa Purana, dalam lembar 11 disebut :

“…. Samalih sangapadheg idane prabhu candrasangka, mengwangun pura, lwire : panataran sasih, samantiga, hilen-hilen ri kala aci, nampiyog, nganten, syat sampyan, sanghyang jaran, nglamuk beha, maplengkungan, syat pajeng, pendet, hana bale pgat, pegat leteh…”

Artinya :

“…. Dan lagi semasa pemerintahan beliau Prabu Candrasangka membangun pura antara lain Penataran Sasih, Samuan Tiga, tarian tarian di saat upacara yaitu nampyog nganten, siat sampian, sanghyang jaran, menginjak bara, mapelengkungan, siat pajeng, pendet, dan ada juga bale pegat untuk menghilangkan berbagai ketidaksucian atau leteh….”

Dalam lontar Tatwa Siwa Purana disebut Pura Samuan Tiga dibangun pada masa pemerintahan raja Candrasangka. Bila ditelusuri, raja yang dimaksud identik dengan raja Candrabhayasingha Warmadewa yang disebut dalam prasasti Manukaya yang berangka tahun 926 Masehi. Sehingga Pura Samuan Tiga diperkirakan telah dibangun sekitar abad X. Pura Samuan Tiga dibangun bertujuan untuk memenuhi konsep keagamaan saat itu, dimana setiap kerajaan wajib memiliki tiga pura utama, yaitu Pura Gunung, Pura Penataran, dan Pura Segara. Diyakini Pura Samuan Tiga merupakan Pura Penataran yang berada di pusat kerajaan, hal ini dibuktikan dari banyaknya peninggalan masa Bali kuno disekitar desa Bedulu.

(Sumber Gambar : Buku Tempat Tempat Spiritual Di Kabupaten Gianyar)

Penamaan "Samuan Tiga"

Penamaan Pura Samuan Tiga merupakan bentukan dari kata Samuh dengan akhiran an yang berarti pertemuan, musyawarah, rapat dan Tiga yang merujuk pada bilangan tiga (3). Maka “Samuan Tiga” berarti pertemuan yang dihadiri oleh tiga kelompok. Hal ini selaras dengan pernyataan oleh Wakil Bendesa, Wayan Sunantara dalam wawancara menyampaikan bahwa di Pura Samuan Tiga diadakan sebuah rapat agung atau disebut dengan paruman pada pemerintahan raja Udayana yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan antara sekte yang berkembang saat itu. Lebih jelasnya, peristiwa ini disebutkan dalam Babad Pasek sebagai berikut :

“…. nguni duk pamadegan Çri Gunapridarmapatni Udaya Warmadewa, hana pasamuan agung Çiwa Budha kalwan Bali Aga ya hetunya hana desa pakraman mwang kahyangan tiga maka kraman ikang desa para desa Bali Aga…”

Artinya :

“….Dahulu kala pada saat bertahtanya Çri Gunapryadharmapatni dan Udayana Warmadewa, ada musyawarah besar Siwa Budha dan Bali Aga itulah asal mulanya (sebabnya) ada desa pakraman dan kahyangan tiga sebagai tatanan kehidupan dari masing-masing desa Bali Aga”.

Berdasarkan lontar tersebut, peristiwa musyawarah tokoh-tokoh masyarakat ini diperkirakan terjadi saat masa pemerintahan raja suami istri Udayana Warmadewa dan Gunapryadarmapatni yang memerintah sekitar tahun 989 masehi sampai 1011 masehi. Pada masa Bali kuno disebutkan berkembangnya konsep keagamaan yang bersifat sektarian. Diketahui terdapat sembilan sekte berkembang masa itu, diantaranya Bhairawa, Pasupata, Siwa Sidanta, Waisnawa, Budha, Brahma, Resi, Sora, dan Ganapatya. Masing-masing sekte memiliki Dewa Utamanya dengan keyakinan bahwa kepercayaannya adalah yang paling benar. Mengetahui hal ini, raja Udayana dan Gunapriyadharmapatni mengambil tindakan untuk mengatasi perselisihan sosial yang terjadi melalui musyawarah dengan mendatangkan tokoh agama, salah satunya Mpu Kuturan.

Lahirnya Konsep Tri Murti

Kedatangan Mpu Kuturan ke Bali menjadi tonggak penyempurnaan kehidupan beragama di Bali, dimana bersatunya sekte-sekte yang pernah berkembang. Dari 9 sekte yang ada, Mpu Kuturan melebur pemahaman sekte tersebut dengan memperkenalkan konsep Tri Murti. Konsep tersebut disetujui dan diakui oleh masyarakat kemudian diterapkan dalam pola Desa Pakraman (kini Desa Adat) dengan pendirian Pura Kahyangan Tiga sebagai sthana dewa Tri Murti pada setiap desa, serta bagi setiap keluarga diterapkan pembangunan Sanggah Kemulan Rong Tiga.

Perkembangan Pura Samuan Tiga

Terjadinya peristiwa monumental bagi perkembangan agama Hindu di Bali maka dapat dikatakan bahwa Pura Samuan Tiga merupakan cikal bakal dari adanya Desa Pakraman (Desa Adat) dan Pura Kahyangan Tiga sebagai wujud penerapan konsep Tri Murti di Bali. Pura Samuan Tiga yang kita kenal saat ini telah mengalami proses sejarah yang cukup panjang dan pengembangan struktur pura sesuai jaman. Kini Pura Samuan Tiga termasuk jenis Pura Kahyangan Jagat yang dikelola oleh lima desa adat yaitu Desa Adat Taman Pekandelan, Wanayu Mas, Bedulu, Tengkulak Kaler, Tengkulak Tengah. Selain itu pura juga dikelola oleh pengayah yaitu permas dan parekan serta kepemangkuan.

Tari Legong Pura Samuan Tiga pada tahun 1928

(Sumber : Bali1928.net)

Cak Bedulu Karya I Wayan Limbak pada tahun 1932

(Sumber : Getty Images via Ida Kenitén)

Arsipan

Pura Samuan Tiga

Laporan Inventarisasi Benda Cagar Budaya (2011)

Buku Pura Samuan Tiga (2006)

Buku Tempat-tempat Spiritual Gianyar (2005)

Denah

Pura Samuan Tiga